Jumat, 22 Juli 2016

TRAGEDI HEYSEL : SEJARAH KELAM DALAM DUNIA SEPAK BOLA




TRAGEDI HEYSEL :
SEJARAH KELAM DALAM DUNIA SEPAK BOLA



"Kami melihat fans Italia menangis dan mereka memukul-mukul bagian luar bis ketika kami keluar meninggalkan hotel. Ketika kami meninggalkan Brussels, sejumlah orang Italia marah-marah, dan memang bisa dipahami karena ada 39 rekannya yang meninggal dunia. Saya ingat betul ada seorang Italia yang wajahnya tepat di bawah jendela tempat saya duduk. Ia menangis dan marah. Anda bisa rasakan bagaimana ia kehilangan seseorang dalam kondisi seperti itu. Anda pastinya tidak pernah berharap hal itu berakhir demikian."

Itulah kesaksian dari Kenny Daglish, salah satu legenda Liverpool sekaligus saksi mata dalam Tragedi Heysel, sebuah tragedi kelam yang pernah terjadi dalam dunia sepak bola 28 tahun silam. Tercatat 39 orang meninggal dunia & lebih dari 600 orang mengalami luka-luka pada tragedi tersebut. Tragedi ini juga berbuntut reaksi keras dari UEFA (United European Football Association) berupa penjatuhan sanksi larangan keikutsertaan tim-tim sepak bola asal Inggris di kompetisi Eropa selama lima tahun. Khusus untuk Liverpool, ada tambahan waktu tiga tahun, namun kemudian direvisi menjadi satu tahun saja.



Kronologi


Tragedi Heysel terjadi pada 29 Mei 1985, tepatnya pada saat digelarnya partai final Liga Champions musim 1984/85 atara Juventus VS Liverpool. Pada saat itu, puluhan ribu pendukung Liverpool dan Juventus berlomba-lomba datang ke ke Stadion Heysel, Brussels, Belgia dengan harapan dapat menyaksikan klub kesayangannya bertanding dan berhasil mengangkat trofi juara Eropa. Total jumlah penunton saat itu mencapai 60.000 penonton. Sebenarnya, kedua kelompok suporter ini sudah dipisahkan. Namun, terdapat kekacauan di zona netral. Saat itu, zona netral lebih banyak diisi oleh pendukung Juventus. Sementara pendukung Liverpool yang ada di zona yang sama, cuma dibatasi dengan pagar kawat.



Selain antisipasi keamanan yang buruk dari pihak penyelenggara, kondisi Stadion Heysel juga disebut-sebut sebagai salah satu biang keladi terjadinya tragedi ini. Saat itu, Stadion Heysel sudah berusia lebih dari separuh abad, & banyak fasilitas kurang layak juga dituding sebagai salah satu yang memperburuk peristiwa itu. Selain tidak terawat, beberapa bagian stadion terbuat dari bahan ringkih. Para pendukung yang tidak kebagian tiket bisa menjebol tembok yang terbuat dari batako berlubang.

Pukul tujuh malam, tepat satu jam sebelum kick-off pertandingan, pemicu tragedi ini mulai meletup. Kedua pendukung yang sebagian besar sudah berada di bawah pengaruh minuman beralkohol mulai bersitegang dan saling melempar ejekan bernada provokasi yang kemudian pada akhirnya berujung pada aksi saling lempar batu. Saksi mata menyatakan, pendukung Juventus lebih dulu melempar batu ke arah tempat duduk pendukung Liverpool.

Terprovokasi ulah tersebut, kubu pendukung Liverpool juga ikut melempat batu ke arah lawan. Rupanya kondisi kian memanas, pendukung Liverpool yang memang unggul jumlah orang mengubah skenario pertikaian dengan melakukan penyerangan frontal & merusak pagar pembatas yang hanya berupa rantai berkawat.

Kalah jumlah, pendukung Juventus mulai terpojok dan berusaha mundur. Mereka mencoba menyelamatkan diri namun naasnya, mereka terhalang dengan tembok besar. Tembok stadion yang memang sudah rapuh itu akhirnya runtuh akibat dorongan dan banyak jumlah orang di satu tempat. Para korban sempat berusaha menghindar & menyelamatkan diri, tetapi tidak sempat & akhirnya jatuh korban akibat terinjak-injak & tertimpa material tembok yang runtuh tersebut.

39 orang meninggal dunia, 32 di antaranya berasal dari pendukung Juventus, 4 orang Belgia, 2 dari Perancis, dan seorang warga Irlandia.



Pasca runtuhnya tembok tersebut, suasana semakin kacau. Pendukung Juventus yang telah menyadari telah jatuhnya korban dari pihak mereka menjadi sangat beringas. Mereka turun ke lapangan, menyerang balik kubu pendukung Liverpool dan bentrok dengan aparat yang coba menghalangi aksi mereka. Namun perlu dimaklumi bahwa aksi beringas pendukung Juventus ini terjadi karena sebagian dari mereka baru saja kehilangan teman dan saudara yg dicintai.

Meskipun korban dalam Tragedi Heysel berjatuhan dan diwarnai kericuhan hebat, namun pertandingan tetap dilanjutkan. Alasannya, karena bila partai ini tidak dilanjutkan, justru dikhawatirkan emosi kedua kubu akan kembali meluap dan bisa jadi pula akan terjadi korban berikutnya. Walaupun bertanding dalam keadaan penuh duka, Juventus akhirnya sukses mencetak kemenangan. Gol semata wayang dalam laga ini dibuat oleh sang legenda Michel Platini di menit 56 setelah mendapat hadiah penalti akibat pelanggaran yang dilakukan oleh Zbigniew Boniek.


Nasib Stadion Heysel dan Tugu Peringatan


Pasca Tragedi Heysel, selain membawa dampak dijatuhkannya sanksi larangan bertanding bagi klub-klub Inggris di kejuaraan Eropa, tragedi tersebut juga menyebabkan Stadion Heysel tidak lagi digunakan untuk menggelar ajang sepak bola hingga sepuluh tahun. Memang ada ajang olahraga yang dilangsungkan di sana, namun hanya sebatas atletik saja. Renovasi pun dilakukan untuk stadion ini. Puncaknya adalah pada 1994 ketika Heysel diberi nama baru, yaitu Stadion King Baudouin. Nama baru ini sekaligus bertujuan menutup tragedi 1985.



Stadion King Baudouin digunakan pertama kali untuk menggelar partai persahabatan antara Belgia dan Jerman, sekaligus menandakan kesiapan pemerintah Belgia dan semua orang di negeri tetangga Belanda tersebut bahwa Tragedi Heysel takkan terulang lagi. Stadion King Baudouin sendiri akhirnya berkesempatan untuk menggelar partai final kejuaraan Eropa setahun kemudian. Pada 8 Mei 1996, stadion baru ini dipakai untuk laga PSG (Prancis) melawan Rapid Wina (Austria) di final Piala Winners.

Selain berubahnya Stadion Heysel, pasca tragedi ini juga melahirkan sebuah tugu peringatan. Untuk mengenang Tragedi tersebut didirikan tugu peringatan yang dibangun dengan total biaya mencapai £140.000 dan didesain oleh seniman asal Perancis bernama Patrick Remoux.

Tugu ini diresmikan 20 tahun setelah Tragedi Heysel, tepatnya pada 29 Mei 2005. Tugu ini berbentuk jam matahari yang di sekelilingnya dihiasi dengan batu-batuan yang berasal dari Belgia dan Italia. Ada 39 lampu bersinar untuk masing-masing korban. Ada juga sebuah puisi berjudul "Funeral Blues" yang diciptakan oleh penyair Inggris, W. H. Auden.

Amicizia !


Lalu bagaimana hubungan antara Juventini (sebutan untuk pendukung Juventus) dan The Kop (sebutan untuk pendukung Liverpool) sekarang? Tragedi Heysel memang terus diingat, namun hebatnya tragedi ini tidak lantas membuat kedua belah pihak terus-menerus menjadi musuh dan menyimpan dendam.

Contohnya pada babak perempat final Liga Champions 2005 saat kedua kesebelasan kembali berhadapan. Ketika itu Liverpool menjamu Juventus di Stadion Anfield. Kenangan buruk, emosi, dan dendam dari Tragedi Heysel itu hilang sudah. The Kop menciptakan mozaik raksasa nan indah bertuliskan "Amicizia" yang berarti persahabatan. Mozaik ini menyiratkan permintaan maaf mereka sebesar-besarnya terhadap Juventini. Aksi itu dibalas oleh sebagian besar Juventini yang memadati Stadion Anfield dengan sambutan hangat dan tepuk tangan meriah.



Contoh lain bisa dilihat pada bulan Juni 2010, di situs resminya, Liverpool mengeluarkan gambar dua tangan yang saling bersalaman. Satu tangan berwarna merah dengan latar belakang merah, sementara satu lagi berwarna putih dengan latar belakang hitam, yang menggambarkan warna seragam antara Liverpool dan Juventus. Di samping kanan tangan yang bersalaman itu terdapat tulisan "In Memoria E Amicizia, May 29 1985", yang artinya "Dalam Kenangan & Persahabatan, 25 Mei 1985".



Tragedi Heysel merupakan salah satu sejarah kelam dalam dunia sepak bola. Pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sudah saling memaafkan, tapi tragedi ini tetap tidak boleh dilupakan. Bukan bertujuan untuk menumbuhkan dendam dan mengorek luka lama, melainkan agar menjadi pelajaran di waktu-waktu mendatang khususnya bagi para pendukung fanatik klub sepak bola dimanapun berada.
ttd-bhonkyholics.png


separator2.png


SUMBER



bbbhhh-pp9-icon.ico


KUNJUNGI KAMI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar